Talkshow Halal Tour

Wisata Halal bukan Persoalan SARA

22 September 2019
Blog

IHRAM.CO.ID, JAKARTA — Kenapa harus Halal Tour? Sebuah pertanyaan yang untuk sebagian orang akan merasa kurang nyaman menyebutnya, kenapa harus halal? Tapi bagi umat Islam, persoalan halal menjadi penting karena itu menyangkut keyakinan dalam ajaran Islam. “Halal sekarang sudah menjadi tren  di beberapa negara non muslim, terutama dalam bidang pelayanan pariwisatanya. Muslim traveller (wisatawan Muslim) sudah punya banyak pilihan fasilitas yang mengakomodasi mereka, mulai dari menu makanan di restoran, fasilitas tempat ibadah dan destinasi yang muslim friendly,” kata Chairman Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF), H  Priyadi Abadi  MPar.

Ia mengemukakan hal tersebut dalam ajang talk show seputar travel halal di Kompas Travel Fair 2019  yang digerlar di  Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta,  Sabtu (21/9). Talk show itu juga menampilkan  Hasiyanna S Ashadi (ketua DPD Asosiasi Perusahaan Travel Indonesia (Asita) DKI),  dan D Alexandrie Sagitha (ketua  Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD Jabar). Priyadi Abadi menegaskan, bicara halal bukan bicara persoalan SARA (suku, agama, ras dan antargolongan). Tapi dalam rangka menjalankan undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen. “Dalam hal ini konsumen umat Islam sebagai muslim traveler,” ujar direktur utama Adinda Azzahra Tour & Travel itu.

Wisata Muslim Eropa Barat

Ia menambahkan, dalam hal ini bukan hanya menjalankan UU saja, tetapi juga dalam rangka menjalankan ajaran Islam. “Karenanya umat Islam punya hak untuk menjalankan atau mendapatkan kebaikan dari sesuatu yang halal sebagai upaya memenuhi kebutuhan ruhani dan jasmani,” katanya dalam rilis yang diterima ihram.co.id, Sabtu (21/9). Priyadi menambahkan, persoalan halal ini telah menjadi tren  bahkan menjadi sesuatu yang dianggap sebagai bisnis baru untuk menjaring konsumen Muslim. Muslim menjadi segmen konsumen yang pertumbuhannya sangat cepat di dunia. “Perusahaan maupun produsen harus mempertimbangkan pelayanan yang tidak hanya mengedepankan kualitas, namun juga memperhatikan jaminan halal agar tidak kehilangan kesempatan yang ada,” paparnya. Data GMTI (Global Muslim Travel Index) 2019 menunjukkan,  hingga tahun 2030, jumlah wisatawan Muslim  diproyeksikan akan menembus angka 230 juta di seluruh dunia. Pertumbuhan pasar pariwisata halal Indonesia di tahun 2018 mencapai 18 persen, dengan jumlah wisatawan Muslim  mancanegara yang berkunjung ke destinasi wisata halal prioritas Indonesia mencapai 2,8 juta dan perolehan devisa mencapai lebih dari Rp 40 triliun.

Mengacu pada target capaian 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang harus diraih di tahun 2019, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pariwisata menargetkan 25 persen  atau setara 5 juta dari 20 juta wisman adalah wisatawan Muslim. Menurut Priyadi, Indonesia pada tahun 2019 berhasil menorehkan prestasi di level internasional dengan diraihnya peringkat pertama sebagai destinasi wisata halal dunia versi GMTI 2019, yang diumumkan oleh CrescentRating-Mastercard.

“Prestasi ini menjadi peluang untuk meningkatkan jumlah wisatawan muslim dari mancanegara ke Indonesia,” tuturnya. Untuk menyiapkan pariwisata halal di Nusantara, pemerintah juga mengembangkan 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional di tahun 2018 yang mengacu standar GMTI, yakni: Aceh, Riau dan Kepulauan Riau, Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur (Malang Raya), Lombok, dan Sulawesi Selatan (Makassar dan sekitarnya). Bahkan sebagai penguatan destinasi pariwisata halal dilakukan dengan menambah keikutsertaan enam kabupaten dan kota yang terdapat di dalam wilayah 10 Destinasi Halal Prioritas Nasional, yaitu Kota Tanjung Pinang, Kota Pekanbaru, Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Cianjur. Sementara mancanengara, khususnya Eropa telah berkembang destinasi yang menyajikan paket untuk memfasilitasi kebutuhan umat Islam dalam hal menu Muslim friendly (ramah Muslim).

“IITCF terus berkampanye agar wisatawan Muslim mendapatkan layanan yang minimal Muslim friendly,” katanya. Upaya yang dilakukan oleh IITCF dalam meyakinkan para vendor untuk menyediakan fasilitas yang Muslim friendly sudah membuahkan hasilnya. “IITCF berhasil meyakinkan beberapa vendor untuk menyiapkan fasilitas kebutuhan wisatawan Muslim, seperti menu di Puncak Titliis Swiss, Coklat Brown di Brussels, masakan Padang di Amsterdam, dan masih banyak lagi,” katanya. IITCF juga melakukan kunjungan ke beberapa kedutaan terkait program kampanye IITCF tentang wisata halal di Eropa dan Asia. Bahkan IITCF menebar perangkat shalat di masjid-masjid di Eropa, sebagai bentuk kepedulian dalam menyiapkan fasilitas umat Islam dalam shalat. “IITCF terus berupaya mengedukasi masyarakat, mulai dari wisatawan, tour leader, owner travel untuk belajar menambah wawasan akan destinasi wisata Muslim di wilayah Eropa dan Asia. Sehingga umat Islam yang berwisata ke mancanegara tidak perlu kuatir lagi dengan kebutuhan yang dianjurkan dalam ajaran Islam,” tegasnya.